Lagi dan Lagi

Posted: 26 Januari 2012 in About Me, Special

Seminggu terakhir ini gue melihat banyak kejadian luar biasa yang bisa gue petik pelajaran berharga daripadanya.

Pertama adalah tentang kejadian tragis yang merenggut nyawa-nyawa pejalan kaki tak berdosa akibat ditabrak oleh pengemudi Xenia. Masih terngiang jelas berita tersebut ditelinga kita, ketika disuatu minggu yang cerah tiba-tiba muncul berita yang cukup mengenjutkan bahwasanya telah terjadi kecelakaan yang cukup dahsyat antara mobil Xenia yang menabrak 12 orang yang berada di sisi jalan dan di halte. Tragis, belum pernah ada kecelakaan separah ini sebelumnya (menurut gue). Usut punya usut, ternyata sang pengemudi berada dibawah pengaruh obat terlarang jenis shabu-shabu. Sungguh pengaruh yang buruk bagi pribadi dan berdampak buruk juga pada orang yang tidak menggunakannya namun terkena imbasnya. Harapan kita agar sang pelaku dihukum seberat-beratnya, aamiin.

Kedua, masih seputar kabar duka. Ayah dari kawan karib gue meninggal dunia. Sungguh gue dan temen-temen tongkrongan sangat merasa kehilangan, karena beliau adalah orang yang baik. Terlihat dari banyaknya orang yang mengantarkannya hingga menuju ketempat peristirahatannya yang terakhir.

Dari kedua peristiwa penting tersebut, gue dapet satu pelajaran moral berharga lainnya. Dimana kematian dapat mendatangi kita suatu waktu tanpa ada isyarat apapun. Contohnya pada tragedi Tugu Tani, dimana para pejalan kaki baru saja selesai berolahraga tapi tiba-tiba maut menjemputnya. Sungguh Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatunya.

Terkadang kita sering mengesampingkan sesuatu yang sudah pasti terjadi pada diri kita, yaitu kematian. Karena Allah sudah menjelaskan dalam Al Quran Surah Al-Imran ayat ke 185 : “Setiap yang bernyawa pasti akan mati.” Namun terkadang kita sering melupakannya, menganggap sesuatu yang pasti terjadi seakan tidak akan menimpannya.

Gue pun berpendapat bahwa kita tidak perlu merasa takut akan kematian, tapi takutlah apabila saatnya kita tiba, namun bekal kita untuk di negeri akhirat tidak cukup.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap pelajaran.
Insyaallah ^_^

Problematika Pacaran

Posted: 17 Januari 2012 in About Me, All About Love

Sebelumnya gue mohon maaf apabila isi dari postingan ini agak sedikit kasar atau ada yang tidak berkenaan dari pembaca sekalian. Semoga setelah membaca postingan gue ini, kita semua bisa mengambil pelajaran.

Buat gue, anak-anak muda zaman sekarang sudah terlalu jauh dalam mengartikan makna cinta yang sebenarnya. Tak ada yang salah memang ketika seorang anak manusia mengalami perasaan jatuh cinta, rindu, cemburu bahkan sakit hati. Namun hal itu menjadi masalah apabila mereka terlalu berlebihan dalam penerapannya sehari-hari.

Tak perlu jauh-jauh, mari kita berkaca pada diri sendiri. Apakah kita sudah sepantasnya berlebih-lebihan pada orang yang belum tentu akan menjadi suami/istri kita kelak? Berlebih-lebihankah kita dalam mengumbar rasa sayang ketika berpacaran? Atau terlalu ‘lebay’kah kita ketika menghadapi keterpurukan saat bubaran sama pacar?

Kadang gue pengen ketawa sendiri, melihat mereka yang terlalu bahagia pada awal masa pacarannya namun begitu sedihnya ketika mereka berpisah. Seakan-akan mereka adalah orang yang paling menderita di bumi ini, bahkan ada yang sampai nekat mengakhiri hidupnya. Naudzubillah.

Tak jarang pula dari mereka yang sampai bertengkar gara-gara pacarnya direbut atau ketika tahu bahwa sang kekasih sampai tega menduakan hatinya. Hal ini buat gue pribadi adalah suatu kekonyolan atau dalam bahasa yang lebih kasar adalah sebuah ketololan. Memang sudah tidak ada lagi cowok/cewek di dunia ini hingga harus berebut segala? Atau ketika tahu kita dikhianati, kenapa gak ditinggalin aja sih? Terus ganti sama yang lebih bisa tulus sayang sama kita.

Status masih pacaran, tapi rasa yang ditanamkan sudah seperti suami-istri yang sah. Sehingga pada zaman sekarang, sudah tidak asing lagi kita temui ada sepasang kekasih yang menikah karena sudah hamil di luar nikah (istilah kerennya, MBA).

Gue jadi inget sama pesen dosen gue, “Boleh sayang sama pacar, tapi cukup 5 persen aja. Karena kalian masih ada orang tua, keluarga, teman, dan Allah yang lebih pantas kalian sayangi dibanding pacar kalian.” Setelah gue pikir-pikir ada benarnya juga kata beliau, jadi ketika kita putus nanti kita tidak terlalu sakit hati yang menyebabkan kita malas untuk beraktifitas dan ujung-ujungnya hidup kita malah jadi berantakan.

Seperti yang tadi gue tulis pada awal postingan ini, gak ada maksud sedikitpun dari gue untuk nge-judge kalian. Hanya sekedar mengingatkan agar tidak terlalu berlebih-lebihan memberikan rasa sayang pada orang yang belum tentu menjadikan pasangan kita kelak.

Suatu hari, sebuah kisah mulia terjadi dan bermula dari suatu tempat yang sangat sederhana, Pangkalan becak. Seorang bapak tua tengah membersihkan keringatnya setelah seharian bekerja. Beliau adalah seorang tua yang berusia sekitar 75 tahun dan sudah lebih dari 35 tahun mencari nafkah dengan menarik becak. Sosoknya sangat sederhana dan murah senyum. Dikalangan teman- temannya, si bapak tua adalah seorang yang sangat disegani, karena kejujurannya.

ketika sore menjelang, ada seorang anak muda menaiki becaknya. Si anak muda adalah seorang yang kaya, terpelajar dan modern. Dia berniat datang ke kota tersebut untuk berekreasi dan melepas penatnya setelah lama bekerja di kota. Berjam- jam mereka berkeliling kota, sampai akhirnya adzan magrib pun berkumandang. Seketika, si bapak tua itu menghentikan becaknya di depan sebuah masjid, dan meminta ijin untuk sholat.

Setelah beberapa lama, mereka kemudian melanjutkan kembali acara jalan- jalan tadi. Dan, sampailah mereka pada sebuah warung kopi dipinggir jalan.

“Nak, apa bapak boleh minta ijin sebentar untuk buka puasa?”

” Bapak puasa? ” Jawab anak muda tersebut dengan sedikit terkejut.

” Iya. sebentar saja, bapak ingin beli air dulu”

” Saya ikut sekalian pak. Kita minum kopi bareng. Saya yang traktir” Kata si anak muda dengan semangat.

Mereka berduapun akhirnya melepas lelah sambil ngobrol dan bersantai di warung tersebut.

” Kenapa bapak puasa tapi masih mengayuh becak?. Apa ndak capek?” Si anak muda memulai pembicaraan.

” Bapak sudah terbiasa insyaallah. Ndak apa- apa nak” Jawab pak tua singkat.

Waktupun terus berlalu. Banyak hal mereka bicarakan bersama malam itu. Dan melihat hari semakin malam, anak muda tersebut berniat pamit pulang. Dia mengucapkan terimakasih seraya memberikan uang sebagai ongkos naik becak. Tapi di luar dugaan, bapak tukang becak itu menolaknya.

” Ini kan ongkos buat bapak tadi setelah seharian mengantar saya.” Kata anak muda itu kali ini dengan masih sangat heran

” Ndak nak, trimakasih” jawab bapak tua

” Maap apa masih kurang? Ok. Ini buat bapak semua” Tanyanya lagi sambil memberikan uang 2 ratus ribu.

“Maaf nak bukan begitu. Sebenarnya…”

” Kenapa pak? ” Diapun buru- buru memotong perkataan itu.

” Maaf nak, bukan bapak tidak mau menerima. Tapi hari ini hari kamis nak, bapak tidak mau menerima uang dari siapapun yang naik becak bapak. “

” Kok bisa begitu pak?” Tanya si anak muda dengan lebih penasaran. “

“Bapak inikan orang miskin dan bodoh, tapi… sebenarnya bapak ingin naik haji. Semua orang memang mentertawakan bapak, mereka bilang bapak suka berkhayal. Lah wong, buat makan sehari hari saja tidak cukup apalagi naik haji. Akhirnya bapak cuma bisa minta sama Allah, karena bapak yakin Allah satu- satunya yang tidak akan mentertawakan bapak.”

“Lalu…” si anak muda tidak dapat menghentikan rasa penasarannya.

“Kalau hari senin dan kamis bapak tidak akan meminta bayaran sedikitpun kalau ada orang yang naik becak. Bapak berniat sedekah dengan tenaga bapak itu. Bapak berharap suatu hari Allah melihat kesungguhan usaha ini dan akan mengabulkan doa bapak.”

” Apa bapak yakin? “

” Kalau kita berharap pada makhluk, kita harus siap- siap untuk setiap saat kecewa, tapi kalau kita berharap hanya pada Allah, Dia adalah satu- satunya yang tidak pernah mengkhianati kita, nak. Kita harus Yakin dengan apa yang kita doakan dan cita- citakan, Insyaallah Allah tidak akan mengkhianati kita. “

Sejenak si anak muda tersebut terdiam. Benar- benar kali dia kehilangan walaupun hanya satu huruf saja untuk di ucapkan. Tak terasa, kopi yang disuguhkan dihadapannya telah dingin. Dan dia masih belum bisa mengatakan apapun. Setelah beberapa saat dia pamit pulang meninggalkan pasar yang ramai dengan hiruk pikuknya.

Setelah sampai di rumah, pikirannya kemudian di penuhi dengan seribu satu hal. Kata- kata bapak tukang becak itu begitu lugu dan natural namun sangat dalam baginya. Entah mengapa, seketika perasaan malu menyeruak melingkupi batinnya. Teringat padanya, bahwa dia selama ini yang selalu dalam gelimang harta dan kekayaan, namun sangat susah baginya untuk sekedar meluangkan waktu untuk mengingat tuhannya. Kesadarannya tiba- tiba muncul dan berkata bahwa ternyata selama ini, harta yang dia miliki hanyalah sekedar ujian baginya, dan sayangnya dia tidak berhasil dalam ujian itu, karena terbukti harta telah membuatnya jauh dari Allah sang maha Rahman.

Masih terngiang di kepalanya, ucapan bapak tukang becak tersebut. Herannya, dia bukanlah seorang profesor atau manusia yang mempunyai gelar terhormat, namun baru kali inilah, seorang yang lugu, sederhana, namun sangat sholeh, telah berhasil menyentuh hatinya.

Beberapa hari kemudian…

Si anak muda akhirnya telah kembali ke kota tersebut, dan kali ini dia berada di tengah- tengah pangkalan becak itu. Telah bulat tekadnya untuk menemui tukang becak tua yang dia jumpai beberapa hari lalu, untuk membicarakan sesuatu. Setelah beberapa jam mencari dan menunggu, maka bertemulah mereka berdua, masih di tempat warung kopi yang sama seperti dulu.

” Apakah bapak mau menemani saya?” tanya anak muda tersebut sambil tersenyum.

” Kemana nak?”

” Saya ingin mengajak bapak berhaji tahun ini”

Sumber : voa-islam